Tak Pernah Sendiri

Ku tutup mata hindari pagi

Tenggelam didalam galau tak pasti

Aku hiraukan suara hati

Yang ingin berlari, rindukan mentari.

Duduk sendiri meresapi sepi

Musim berganti dan ku masih disini

Namun Kau buka pintu hati ku

Dengan sentuhan kasih, aku tak sama lagi.

Aku kembali menatap mentari yang berseri

Ku tak sendiri, cinta-Mu selalu bersemi

Hadir-Mu membawa harapan. Ku yakin, Kau akan s’lalu ada

Dan aku kembali tersenyum, menari, dan bernyanyi

Karna ku tau, aku tak sendiri

Cinta-Mu selalu bersemi

Hadir-Mu selalu disini

Kasih-Mu selalu dihati…

Song by Gaby

Lyrics by Monita

Dorothy & Me

Bestfriend

Apa jadinya angkasa

kalau pelangi hanya hitam dan putih?

Apa jadinya lautan

kalau tidak ada angin yang bertiup?

Apa jadinya malam

kalau bulan yang penuh menjadi gerhana yang utuh?

Apa jadinya mimpi

kalau mata tidak pernah tertidur?

Apa jadinya sebuah langkah

kalau kata hati tidak berbisik?

. . .

Berdiam sejenak,

dan bernafaslah

bercerita tanpa suara

Saat ingin bercerita,

namun telinga terlalu sibuk untuk mendengar

kata-kata seputih kertas

Saat ingin bercerita,

Bukan tentang kenapa atau harus bagaimana

Bukan tentang yang ini benar atau yang itu salah

Saat ingin bercerita,

Saat ingin mengungkapkan

Namun yang mampu berkata hanya mata dan

yang bisa mendengar hanya hati

keajaiban sederhana

Hidup itu anugrah…

Di waktu pagi ketika kita buka mata,

kita membuka hadiah yang telah dipersiapkan oleh  Sang Pencipta untuk kita di setiap hari.

Hari yang baru,

nafas yang baru,

matahari yang masih bersinar,

orang-orang terkasih yang masih bersama kita,

dan keajaiban sehari-hari yang  lainnya..

Pada hari Rabu 21 Juli 2010 yang lalu, hadiah untuk ku dari-NYA adalah kepercayaan untuk umur yang baru. Sebuah hadiah yang sangat besar dan berharga…  penuh petualangan dan tanggung jawab baru.

Tetapi aku percaya perjalanan ku kedepan akan penuh dengan keajaiban, karena aku tau DIA; Kekasih Jiwa ku, Sahabat Sejati ku, Tuhan ku yang penuh kasih setia, senantiasa berjalan bersama-sama dengan ku.

Ada yang berubah dan ada yang tidak pernah berubah…

Aku merenungkan hal tersebut pada hari Rabu di bulan Juli yang lalu ketika aku menjalani hari pertama di usia ku yang baru.

Tradisi dirumah ku  adalah kue dan nyanyian bagi yang berulangtahun dipagi hari, nyanyian mereka, senyuman mereka, doa dan harapan mereka, kasih sayang mereka, dan kehadiran mereka.

Kekasih ku yang sedikit galak, penyabar dan penyayang… pelangi waktu aku lalui bersamanya. Aku percaya Tuhan tuntun.

Tuhan ku yang manis tau isi hati ku. Tidak pernah berubah.

  • Ulang tahun ku ketika duduk di bangku SMA:

Aku mendapat beberapa kejutan dari sahabat-sahabat dan teman bermain ku. Kehadiran mereka didepan mata ku, tangan-tangan mereka yang memeluk dengan sungguh-sungguh meskipun berlumuran kue, telur mentah, tepung dan air comberan ( hehe..) sangat menyentuh hati ku.

  • Ulang tahun ku pada Rabu 21 Juli yang lalu bersama teman-teman SMA yang kini sudah nggak SMA lagi:

Kami menghabiskan waktu dengan jalan jalan bersama, bercanda seperti dulu dan berakhir makan di supermarket sambil reuni. Lalu aku dikejutkan oleh kue muffin blueberry mini dan sebuah korek api dari teman-teman untuk adegan tiup lilin bagi ku.

Yang berubah adalah teman putih abu-abu ku sekarang sudah semakin dewasa, sudah punya pekerjaan masing-masing ( “kantoran” hehe bukan “sekolahan” lagi).

Dan yang tidak berubah adalah ‘kehadiran’ mereka.

Aku mendapatkan banyak ucapan dan harapan di setiap hari ulang tahun ku.. Aku sangat bersyukur untuk itu..

Mmm..

Yang berubah adalah biasanya datangnya SMS di HP berisi ucapan dan harapan dari orang-orang terdekat yang namanya ada di phonebook HP ku. -itu dulu-.

Kini, yang penuh adalah twitter dan facebook ku. Banyak ‘mention’ selamat ulang tahun dan ‘wall’ selamat ulang tahun. Beberapa dari orang yang aku kenal, beberapa dari orang yang tidak ku kenal.

Kecanggihan teknologi….. yang memfasilitasi kita untuk ngobrol. Benda-benda ajaib dan canggih dan mutakhir membuat  segalanya jadi serba cepat, serba praktis, serba mudah, serba bisa dicapai. Kita bisa ngobrol dengan seluruh dunia, siapa pun yang tempatnya ada di ujung dunia sekali pun (asal sinyalmya kuat hehe).

” Kemudahan-kemudahan tersebut (teknologi) mempercepat kebutuhan kita dalam membuat keputusan-keputusan.” (aku mendengar kalimat itu diseminar kampus ku ;p).

Yaa…  sangat  membantu bagi pekerjaan dan segudang aktifitas kita.

Tapi, kenapa terasa seperti ada yang hilang ya….

Karena sejauh apapun, ketulusan bisa dirasakan dan pasti terasa di hati.

Tapi kembali lagi, diantara semua yang berubah, ada yang tidak  berubah.

Sahabat ku sejak  SMP… Dorothy. Tanpa mempertimbangkan SMS, atau kemudahan lainnya. Mendatangi aku yang masih tertidur di balik selimut hari Rabu bulan Juli 2010 yang lalu, sebelum ia pergi ke kantor. Membawakan aku kue ( kali ini apple strudel-apfelstrudel) dan pernak-pernik lainnya sebagai hadiah ( khas dia sekali). Dan tidak lupa membawa buku curhat kami untuk ditukar dengan yang ada di aku. Seperti tahun-tahun yang lalu.

Tulus bukan tentang kue atau hadiah. Tapi tulus tentang bisikan doa dan harapan di telinga, tangannya yang terulur untuk memeluk, dan keberadaannya didepan mata ku.

Ketulusan yang dipancarkan sahabat-sahabatku dan orang-orang terkasih dalam hidup ku merupakan keajaiban sederhana yang menyentuh hati.  Membuatku kembali bercermin, agar aku dapat menata diri ku lebih baik lagi, agar aku lebih banyak bersyukur dan belajar dari ketulusan-ketulusan yang aku terima. Agar aku membawa dampak yang baik bagi orang lain, agar aku membawa cahaya seperti mereka yang menerangi hidup ku. Salt & Light.

Ada yang berubah dan ada yang tidak pernah berubah

Ada yang datang untuk menetap, ada yang pergi untuk meninggalkan

Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa

Pasti akan dan pernah kita lewati

Namun yang akan tetap selamanya dan tidak akan pernah berubah hanya satu, Tuhan Yesus ; kuasa Nya yang tak terbatas,  kasih setia-Nya kepada kita.

Kiranya tulisan ini dapat membawa keajaiban sederhana bagi teman-teman yang membacanya.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankan. Mohon maaf lahir&batin.

Be the salt & the light for the world

GBU all :)

musim gugur

Matahari sudah di penghujung petang, tetapi Bulan terlambat datang

Sejak saat itu langit senja tak pernah lagi sama

aku mencari, dia bersembunyi

aku berjalan, dia berlari

aku menunggu, dia menanti

aku pergi menjauh, dia pun sudah tak lagi menanti

menuliskan kisahnya di setiap puisi

melukiskan gambarnya melalui lagu

menceritakan isi hati dengan nyanyian

berulang-ulang namun tak pernah terbaca

amat jelas namun tak pernah disadari

sungguh-sungguh namun tak pernah dirasakan

Ungu nya pilu

Jingga nya senja

Biru nya sendu

Daun kuning ke-emasan yang berjatuhan dimusim gugur,

membelai kisah yang kembali tertidur

hari kamis yang tidak biasa

Memulai lagi hari yang baru…

Ku pikir hari itu akan berjalan seperti biasanya…

Sampai tiba waktu sore,

Aku janjian untuk pergi olahraga dengan teman ku. Perjalanan menuju tempat tujuan terasa seperti tidak berujung, ditempuh dengan cara berjalan ditempat, seperti biasa namun saat itu lebih dari biasanya.

Jakarta yang lagi menyebalkan.

Aku dan teman ku terus berkirim pesan dan mengabarkan bahwa telefon genggam ku akan mati, keputusannya kami tetap akan bertemu ditempat olahraga dan saling menunggu, tepat setelah itu sampailah baterai telefon genggam ku di garis akhir (kebiasaan si telefon genggam)

……………………………………………………………………………………………………

………………….setelah sekian lama akhirnya aku tiba juga di tempat tujuan.

Sebelum menuju tempat berolahraga, aku mampir sebentar ke atm

Ditempat itulah Kamis ku menjadi tidak biasa.

Aku mendengar dan melihat sekilas kepada seorang ibu-ibu berpenampilan mahal yang segalanya -terlihat- tertata dengan apik, sedang memarahi anak laki-laki kecil yang sama sekali belum remaja.

Sebut saja Ibu yang Apik dan Lelaki kecil.

Ibu yang Apik rambutnya melengkung kedalam dengan tegas sebahu. Mengenakan kemeja putih dan celana panjang yang licin. Kalung mutiara yang pas dengan lehernya serasi dengan tas mahal dilengannya.

Awalnya kupikir hanya seperti ibu yang sedang memarahi anaknya yang sedikit nakal.

Aku dapat melihat Ibu yang Apik dengan jelas, namun Lelaki Kecil membelakangi ku, aku ngga bisa melihat wajahnya.

Aku mencoba menghiraukan mereka sambil terus melakukan yang perlu ku lakukan, sampai akhirnya aku mendengar Ibu yang Apik berkata

” memangnya kamu pikir kamu anak siapa? “

Aku menutup mataku, mencoba untuk tak menoleh.

” ini ya saya kasih koin-koin, kamu hidup aja dengan koin-koin itu ” Ibu yang Apik berkata dengan sengit.

Aku sama sekali tidak tau apa maksud dari semua itu, banyak kata kata dari Ibu yang Apik yang terus aku tepis  dan coba aku lupakan dari pikiran ku…

Namun akhirnya aku menoleh ketika Ibu yang Apik berteriak

” APA!!! “… ” SANA KAMU! “

Lelaki Kecil hanya diam, pakaiannya adalah kemeja yang sedikit terlalu besar, celana panjang bekantong banyak yang suka digunakan anak laki-laki kecil ketika menghadiri acara bebas di sekolahnya, dan sendal bagus yang juga sedikit kebesaran, tetapi semuanya bersih.

Ketika aku menoleh Lelaki Kecil tidak lagi membelakangi aku, mungkin posisi berdiri mereka berubah-ubah karena Ibu yang Apik berusaha pergi dan menjauh tetapi Lelaki Kecil terus mendekatinya.

Aku dapat melihat wajahnya..

Aku melihat wajahnya….. dan aku tidak akan pernah melupakan wajahnya.

Wajah kecil yang tidak tau harus berkata apa

Wajah kecil yang tidak tau harus bagaimana..

Wajah kecil yang menangis namun tidak mengeluarkan airmata.

Aku menahan lututku sekuat tenaga, aku menahan airmataku dengan segenap hati yang perih, entah bagaimana… tapi itu yang terasa..

Aku tidak bisa bergerak untuk sesaat.

Ibu yang Apik berusaha menjauhkan Lelaki Kecil dari hadapannya namun tidak pernah melepaskan tatapannya dari Lelaki Kecil. sambil tak hentinya mengatakan hal-hal yang menyakitkan bagi Lelaki Kecil, meskipun ketika ia memperkatakannya kadang  suaranya terdengar parau.. sepertinya kata-kata itu menyakitkan juga buatnya.

“Kamu tidak dapat apa-apa, TAU!!!”

“Berdiri saja kamu disini sampai ada orang yang mau ambil kamu!”

Ibu yang Apik  berbicara semakin keras

“Ini ya kamu pegang ini”

Sambil berusaha memasukkan dengan paksa benda yang kelihatan seperti kartu kecil ke salah satu kantong-kantong yang ada di celana Lelaki Kecil.

“Kamu pegang ini, kamu kasih sama orang yang temuin kamu, supaya mereka tau kamu dari mana”

Telah banyak orang yang menyaksikan kejadian itu. Selama Ibu yang Apik berbicara aku hanya mendengar suaranya, karena mata ku tidak dapat berpaling dari wajah Lelaki Kecil.

ia seperti tidak sanggup berbicara, ia mengusap matanya yang sedih namun tidak berair dengan sebelah tangan. Tangan lainnya menggenggam lengan Ibu yang Apik….

Wajah menangis itu memandang Ibu yang Apik seolah berkata aku harus berbuat apa,

tangannya yang menggenggam lengan Ibu yang Apik berkata jangan pergi.

..

Aku benar benar tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak tahan melihat wajah sedih itu dan aku tidak tahan mendengar kata kata menyakitkan dari hati yang sepertinya sedang berbeban berat.

Tapi aku tidak tau harus berbuat apa, apakah aku perlu berbuat sesuatu? Aku tidak tau apa persoalannya.. Pantas kah aku menegur orang tua?

Aku berjalan menjauh, namun enggan meninggalkan wajah sedih itu. Aku berbicara memohon kepada petugas keamanan yang telah berada ditempat itu sejak aku belum melihat kejadian tersebut agar paling tidak mencoba meredakan suasana, agar situasinya  sedikit membaik pikir ku, karena tidak satu orang pun yang menyaksikan berbuat sesuatu, mungkin termasuk aku.

Namun bapak petugas itu hanya menunduk dan berpaling.

Situasi yang benar benar sulit.

aku kesal terhadap diriku sendiri yang tidak tau atau tidak mampu atau tidak berani berbuat sesuatu.

wajah Lelaki Kecil terus terbayang dibenakku, sampai akhirnya aku memutuskan untuk naik keatas, sambil berharap keadaan akan lebih baik, namun hati ku nggak tenang. Langkah ku berat, aku ingin kembali ke bawah dan berbuat sesuatu. Tapi berbuat apa?

……

Aku tak sanggup lagi menahan lutut dan airmata ku, aku masuk ke salah satu toilet, mengunci pintunya, terduduk dan menangis karena tidak sanggup lagi menahan perasaan ku.

Aku tidak tau apakah itu tangisan marah, atau perasaan bersalah, atau perasaan sedih yang mendalam… namun Bapa ku yang lemah lembut, Bapa ku yang sempurna memampukan ku untuk berdoa.

Aku berdoa kepada Tuhan ku yang penuh kasih setia,  agar Ia menyentuh hati Ibu yang Apik, memadamkan kekecewaannya apapun itu, dan memeluk Lelaki Kecil.

Dan aku percaya Ia mendengar doa ku.

Setelah aku menenangkan diri, dan mencuci muka ku. Aku keluar dari toilet itu, mencoba melihat tempat kesedihan tadi.

Ibu yang Apik dan Lelaki Kecil, keduanya sudah tidak ada lagi di tempat itu.

Aku terus berharap keadaannya jadi lebih baik.

..

Aku berjalan lagi menuju tujuan ku yang seharusnya, tempat olahraga.

Sesampainya disana,

ternyata temanku belum juga datang. Aku memutuskan untuk berolahraga sendiri sambil menunggu temanku. Waktu terus berlalu, namun temanku tak kunjung datang. Aku tidak bisa menghubunginya karena telefon genggamku sudah ngga bisa  menyala lagi.

Aku terus menunggu….

Aku duduk dengan bingung di depan loker, sampai tiba-tiba seorang petugas yang menjaga ruang ganti tersebut melihat ku

“Kok sedih banget, mba?” katanya

lalu aku menjelaskan bahwa aku sedang menunggu teman ku tapi ngga bisa menghubunginya karena telefon genggamku baterainya habis.

bermaksud meminta bantuan untuk menukarkan kartu di telefon genggamnya dengan kartu telefon ku, tetapi ia telah berbaik hati mempersilahkan aku memakai telefon genggamnya.

..

…. hari kamis itu benar benar menjadi hari kamis yang tidak biasa buat ku, Ibu yang Apik, Lelaki Kecil, dan Aisyah yang meminjamkan telefon genggamnya kepada ku…

Notes:

ada satu cara yang selalu membawa damai sejahtera saat kita tidak menemukan jalan keluar yaitu berdoa. Percayalah, DIA selalu ada untuk mu…

ruang mimpi masa lalu

Ruang itu,

Seperti sofa tua yang selalu nyaman

Seperti selimut halus yang selalu penuh kehangatan

Seperti buku harian yang selalu jadi pendengar yang baik

Seperti hanya diterangi cahaya lilin namun yang tidak pernah padam

Di dalamnya terlalu sempit karena penuh dengan hal-hal manis

Di dalamnya waktu seperti berhenti pada saat yang paling merindu,  selalu saja senja

Namun,

Ketika badai datang, ternyata banyak celah tak terlihat yang mempersilahkan angin dingin masuk sampai ke setiap sudut

Membuat apa saja yang meringkuk agar tetap hangat, membeku

Sepertinya badai tidak lagi terjadi di luar, tapi di dalam

Bahkan airmata tak mampu mengisi kekosongan, segalanya menjadi lembab dan semakin rapuh

Berubah menjadi seperti sebuah ruangan yang ‘pernah’ digunakan

Kenangan yang ada terjatuh entah di sudut mana tanpa suara

Kini,

Aku memandang ke dalam, dari luar

Hanya bisa merindukan apa yang tidak terlupakan dari dalamnya ketika melewatinya diperjalanan

Seperti seorang penjaga pintu yang kehilangan kunci nya

Tidak ada yang bisa masuk dan tidak ada yang bisa keluar

…selamat tinggal tanpa kata kepada ruang mimpi masa lalu

seperti seorang kekasih aku mengingat nya

seperti seorang yang hendak pergi aku melupakan nya


viva emptiness by otanisan

kamu

Kamu.. Ya, kamu!

Kamu bisa ambil sepatu terbaik ku,   itu sepatu kaca silahkan kamu pecahkan

Kamu bisa lumuri gaun terbaik ku dengan lumpur,  satu-satunya yang terbaik yang ku punya

Kamu bisa rebut mutiara yang ada di jari dan telinga ku, yang ku selami dasar laut untuk mendapatkannya

Kamu boleh ambil mahkota di kepala ku… bendera perang tak akan ku kibarkan.

Tapi kamu.. Ya, kamu!

Kamu tidak akan pernah mampu meredupkan cahaya emas  jiwa ku.

Dan aku…

aku akan menerangi kamu.. Ya! kamu.

Hope

Detik detik waktu berlalu pergi

lukiskan semua kisah.

Hembus angin bisikan kata indah

hapuskan semua resah.

Kuberjalan menyusuri pelangi

sampai surya bersinar lagi.

Ku ucapkan terima kasih Tuhan.. atas s’gala karunia Cinta.

Bintang jatuh, dekap semua harap.

Hingga datangnya hari, nanti…

From: Dream, Hope&Faith

Happy Good Friday :)

Next Page »


 

January 2012
M T W T F S S
« Dec    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Slideshow

Get the Flash Player to see the slideshow.

Gallery

Pages