Piece Peace

1 Jan 1970

Aku lahir di RS. Budi Kemuliaan, Jakarta, 21 Juli 1987. Aku suka nama ku, Monita Angelica Maharani Tahalea. Ada yang memanggil ku momon, monci, dan nama panggilan ’suka-suka’ lainnya dari keluarga atau teman-temanku. Ada juga yang suka memanggilku Monika, Bonita, Donita, Lolita, Mona, dan lain-lain.

Aku bersyukur sama Tuhan yang sudah menuliskan namaku, menggambarkan karakterku di buku kehidupan-Nya sehingga aku ada dalam kisah-Nya. Dia-Sang Penulis-Sang Pencipta- adalah sahabat setia yang selalu ada di setiap kisah.

Aku sering sekali berebut ikat rambut dengan 2 saudara perempuanku, karena rambut kami bertiga panjang, jadi sangat perlu untuk di kuncir apalagi ketika matahari sedang bersinar dengan segenap hatinya. Tapi walaupun kami suka berdebat gara-gara hal sepele seperti ikat rambut, kami bersatu padu ketika menggeledah atau mengintip isi sms adik laki-laki semata wayang kami.

Tahun berganti, Tuhan memberkati keluarga kami dengan kehadiran 4 adik baru. Satu diantaranya punya sayap dan sekarang tinggal di rumah Bapa di Surga. Aku anak ke-2 dari 8 bersaudara. Kakakku telah menikah dan punya 1 orang anak perempuan. Aku berdarah campuran yang lumayan sagu dan lumayan panada. Papa Ambon, mama Manado.

Masakan rumahku adalah yang paling enak, karena ada ‘nenek’ Nis. Ia paling gembira kalau makanan yang ia masak, habis tanpa sisa. ‘Nenek’ adalah pahlawan pembela kami dari kecoa terbang. Ia Kesayangan kami. ‘Nenek’ punya 2 orang anak, salah satunya tinggal bersama kami, namanya Yuni. Tidak perlu ke salon untuk mengepang rambut ke acara nikahan, ia ahlinya. Ramainya rumah ku seperti sirkus. Rumahku hangat, berisik, dan ngangenin.

Aku pelupa dan moody. Aku bisa jadi sangat menyebalkan. Kalau sudah terlalu parah, biasanya aku akan kesal dengan diri sendiri, lalu menyendiri. Aneh.

Aku masih terus berusaha memperbaiki semua sifat menyebalkanku. Seperti membetulkan pita kaset yang kusut, membutuhkan banyak sekali kesabaran.

Sahabatku sejak SMP namanya Dorothy; ranking 1, pintar, baik hati, lemah lembut, senang sekali mendengarkan lelucon-lelucon ku yang jauh dari lucu, cinta Tuhan. Dia selalu memotivasi aku dalam belajar, dan tentu saja tempat curhat ku. Ia menginspirasi aku yang suka malas belajar ini sehingga akhirnya bisa masuk 10 besar dan pernah duduk diperingkat 3, tanpa nyontek. Satu lagi sahabat SMP ku yang gemar sekali merancang strategi sepak bola di setiap buku tulis apapun, buku catatan, buku PR, atau buku tulis khusus yang spesial ia bawa untuk rancangan strategi-strateginya itu. Andy, penggemar berat nyanyian ku, hehe. Dia ‘percaya’ dengan setiap suara yang ku nyanyikan. Dia dan Dorothy memperkenalkan aku kepada kata ‘melayani’.

Aku belajar bagaimana seseorang bisa membawa pengaruh yang besar buat kehidupan orang lain. Mulai saat itu, aku ingin membawa pengaruh yang baik bagi hidup orang lain, seperti sahabat-sahabat ku itu.

Hmm… Sejujurnya aku suka nggak pede yang nggak penting (ngerti kan maksud ku?) namun firman ini selalu menguatkan aku

Since you are precious and honored in my sight, and because I love you, Isaiah 43:4

Aku sangat menikmati diriku waktu sedang menyanyi, terlepas dari segala ketegangan dan kekhawatiran ketika menyanyi didepan banyak orang. Ketika kita bernyanyi dengan penuh ucapan syukur, meskipun bangku penonton kosong, kita tetap punya seorang pendengar setia, yaitu Tuhan sang pemberi talenta. Gaby, sahabat yang kutemukan dalam bermusik. Bersamanya aku belajar menulis lagu.

Aku berterima kasihpada Tuhan Sang Kasih yang menciptakan musik dan hal-hal bahagia lainnya. Yang membuat hari-hari kita berwarna, menemani di kala sepi dan sendiri, menampung dan menghapus air mata, menambahkan tawa pada seulas senyum, bahkan memeluk erat sehingga si lemah ini punya kekuatan baru. Betapa indahnya hidup ini ketika kita tau betapa baiknya Tuhan kita.

Aku punya banyak mimpi dan cita-cita. Dulu ketika ditanya apa cita-cita ku, jawaban ku adalah ingin jadi biarawati, padahal maksud ku adalah pramugari (?!) tapi papaku takut naik pesawat, dan setelah kupikir-pikir sepertinya aku ingin jadi psikolog saja. Ingin jadi psikolog karena belajar mendengar dan mengenal melalui sesi curhat dan bertukar pendapat bersama teman-teman SMAku. Hindari gosip, kegiatan itu tidak akan membangun pertemananmu.

Orangtuaku ingin aku jadi dokter. Waktu SMA, aku ada di kelas IPA sepertinya kemampuan otak ku cukup bisa bekerja sama. Tetapi kemalasan dan cara berpikir kekanak-kanakan yang ku miliki saat itu merupakan rumus yang memburamkan jalan pikiranku. Teman sebangku-ku di kelas XI-XII IPA 1 - Varista - ( kami duduk dibangku paling depan, disamping pintu kelas ) mengambil jurusan kedokteran dan sekarang sudah lulus. Huhuhu.. kalau saja aku nggak terbuai dengan si malas mampu berpikir masak-masak tentang masa depanku, aku bisa jadi dokter anak atau, mmh.. Psychiatrist. Tetapi hidup bukanlah berjalan atas kehendak kita. Bagian kita berusaha yang terbaik, taat dan percaya. Kemanapun Ia membawa kita. Rencana-Nya pasti yang terbaik.

Aku suka lukisan. Aku nggak terlalu mahir menggambar ( gambar anatomi tubuh manusia ku ngga pernah singkron ) padahal aku mahasiswi DKV. Tapi kata dosen ku, konsep berpikir ku sepertinya cukup ‘design’. Lumayan ya… hehe. Mata kuliah kesukaanku adalah estetika dan seni lukis.

Semester ke 5 diperkuliahan, rasanya ingin berhenti. Bukannya membuat sketsa, aku malah sibuk dengan lirik lagu dan puisi. Aku pikir jurusan kuliah ku tidak berhubungan dengan karir ku sebagai penyanyi. Namun ayah ku berkata “kalau kuliah mu nggak selesai, bukan kamu yang gagal, tapi saya“. Segera setelah mendengar hal tersebut, aku menjalani tanggung jawabku. Teman-teman seangkatan ku lulus dalam waktu tiga setengah tahun. Puji Tuhan, aku menyelesaikan kuliahku dan mendapat gelar Sarjana Desain, setengah tahun setelah mereka.

Aku suka warna dan aku suka bau cat, aku suka melukis bentuk apapun yang ingin ku lukis. Lebih terkesan asal-asalan, antara imajinasi dan eksekusi biasanya nggak sejalan, tapi aku tetap suka.

Aku ingin jadi perenang,aku suka sekali air.. aku suka berenang. Aku suka menyelam sampai ke dasar kolam merasakan kesunyian di dalam air atau menemukan suara pikiran ku. Melihat rambut ku yang berkibar-kibar di dalam air, memperhatikan gelembung udara yang keluar dari mulut dan hidung atau mendengarkan buih-buih air. Aku suka bergerak-gerak menari aneh sesuka hati di dalam air, berkhayal jadi peri air atau berkhayal ada hiu di dalam kolam renang itu sehingga aku akan tiba-tiba berenang ke permukaan sampai ke tepi dengan sangat cepat karena parno sendiri.

Aku suka pantai dan aku suka laut. Sulit sekali melepaskan tatapan dari lautan, mungkin karena rasa airnya sama dengan airmata ku, jadi sepertinya tau apa isi hati ku.

Tapi aku juga suka gunung, aku bisa sedikit lebih dekat dengan bintang dan angkasa. Aku menantikan datangnya matahari di fajar yang berkilau, aku terpesona pada bulan di langit malam, namun aku jatuh cinta kepada senja. Tak pernah kusangka jingga dan ungu bisa begitu serasi di langit biru, romantis sekali Pencipta kita.

Aku juga ingin jadi guru TK,tapi aku harus belajar sabar. Atau jadi penulis. Aku sangat suka menulis. Aku mulai menulis ketika SMP, aku selalu menulis bersama dengan sahabat ku Dorothy. Bercurhat melalui tulisan sampai berbuku-buku. Apa pun itu akan kami tulis. cerita khayalan yang kami karang-karang, rahasia-rahasia yang levelnya sangat rahasia sekali, kegiatan sehari-hari, puisi, tertulis semua.

Aku ingatkan kembali, aku pelupa. Otak ku sepertinya pernah korslet karena peperangan pikiran sehingga mempengaruhi memori dikepalaku. Aku harus memperbaiki cara ku berpikir. Memiliki cara pandang yang melihat sisi baik. Banyak mendengar, sedikit bicara, belajar dari pengalaman orang disekitar dan berkaca membuat ku mengerti kalau peperangan pikiran hanya dapat dimenangkan oleh hati yang punya damai dan suka cita. Bukan damai dan suka cita yang dapat dibeli dengan uang, tapi damai dan suka cita yang kita dapatkan dari Sahabat Setia dengan Kasih yang tanpa syarat.

Ada hal yang tidak mungkin bisa dilupakan, ada juga hal yang terlupakan. Aku ingin bisa jadi orang yang bijaksana dalam memilih apa yang harus ku lupakan, apa yang tidak perlu ku ingat, apa yang tidak boleh ku lupakan, dan apa yang harus selalu aku ingat. Aku ingin punya hati yang mengampuni. Aku ingin punya hati yang penuh dengan kasih.

Aku tidak pernah berpikir untuk jadi seorang penyanyi, tetapi kini aku menemukan alasan kenapa aku bernyanyi. Seperti doa, bernyanyi adalah saat dimana aku berada begitu dekat dengan Cinta Sejatiku.

Aku ingin jadi orang yang lebih baik setiap harinya,setiap kita pasti punya keinginan ini. Jangan hanya ingin, tetapi ‘jadi’ lah. Membahagiakan orangtua ku, keluarga, dan orang-orang yang ku kasihi segenap hati.

Apa yang kita cari sehingga kita tidak bahagia? Bahagia merupakan sebuah keputusan. Seperti cinta.

Aku pernah dan sering ragu akan kemampuan ku nggak percaya akan apa yang bisa aku buat, bingung akan jadi apa aku nantinya, kemana jalan hidup ini menuntun ku, bagaimana masa depan ku? Apakah aku akan jadi orang yang berhasil mendapatkan apa yang aku kejar? atau aku akan jadi orang yang biasa-biasa saja? atau malah jadi orang yang kehilangan arah selamanya..?

Ketika kita merasa segalanya seperti hilang, ingatlah bahwa kita tidak akan pernah kehilangan kasih Tuhan. Ia yang akan memampukan kita.

Setiap kita ada karena sebuah tujuan.

Jalan-Nya tak selalu mudah, namun mari percaya

Dia merancang segalanya sempurna. Selalu.”

Dan aku percaya, pengharapan dari Tuhan Sang Kasih tidak pernah mengecewakan. Semua indah pada waktu-Nya, percaya saja sama rencana-Nya. Berbahagialah karna Tuhan menyayangi kita semua. Berbahagialah karna Ia tinggal dalam hati kita. Berbahagialah karena Tuhan Yesus setia.

Dengan sepenuh hati,

Monita Tahalea


TAGS 1


-

Author

Search

Recent Post