hari kamis yang tidak biasa

1 Jul 2010

Memulai lagi hari yang baru…

Ku pikir hari itu akan berjalan seperti biasanya…

Sampai tiba waktu sore,

Aku janjian untuk pergi olahraga dengan teman ku. Perjalanan menuju tempat tujuan terasa seperti tidak berujung, ditempuh dengan cara berjalan ditempat, seperti biasa namun saat itu lebih dari biasanya.

Jakarta yang lagi menyebalkan.

Aku dan teman ku terus berkirim pesan dan mengabarkan bahwa telefon genggam ku akan mati, keputusannya kami tetap akan bertemu ditempat olahraga dan saling menunggu, tepat setelah itu sampailah baterai telefon genggam ku di garis akhir (kebiasaan si telefon genggam)

……………………………………………………………………………………………………

………………….setelah sekian lama akhirnya aku tiba juga di tempat tujuan.

Sebelum menuju tempat berolahraga, aku mampir sebentar ke atm

Ditempat itulah Kamis ku menjadi tidak biasa.

Aku mendengar dan melihat sekilas kepada seorang ibu-ibu berpenampilan mahal yang segalanya -terlihat- tertata dengan apik, sedang memarahi anak laki-laki kecil yang sama sekali belum remaja.

Sebut saja Ibu yang Apik dan Lelaki kecil.

Ibu yang Apik rambutnya melengkung kedalam dengan tegas sebahu. Mengenakan kemeja putih dan celana panjang yang licin. Kalung mutiara yang pas dengan lehernya serasi dengan tas mahal dilengannya.

Awalnya kupikir hanya seperti ibu yang sedang memarahi anaknya yang sedikit nakal.

Aku dapat melihat Ibu yang Apik dengan jelas, namun Lelaki Kecil membelakangi ku, aku ngga bisa melihat wajahnya.

Aku mencoba menghiraukan mereka sambil terus melakukan yang perlu ku lakukan, sampai akhirnya aku mendengar Ibu yang Apik berkata

” memangnya kamu pikir kamu anak siapa? “

Aku menutup mataku, mencoba untuk tak menoleh.

” ini ya saya kasih koin-koin, kamu hidup aja dengan koin-koin itu ” Ibu yang Apik berkata dengan sengit.

Aku sama sekali tidak tau apa maksud dari semua itu, banyak kata kata dari Ibu yang Apik yang terus aku tepis dan coba aku lupakan dari pikiran ku…

Namun akhirnya aku menoleh ketika Ibu yang Apik berteriak

” APA!!! “… ” SANA KAMU! “

Lelaki Kecil hanya diam, pakaiannya adalah kemeja yang sedikit terlalu besar, celana panjang bekantong banyak yang suka digunakan anak laki-laki kecil ketika menghadiri acara bebas di sekolahnya, dan sendal bagus yang juga sedikit kebesaran, tetapi semuanya bersih.

Ketika aku menoleh Lelaki Kecil tidak lagi membelakangi aku, mungkin posisi berdiri mereka berubah-ubah karena Ibu yang Apik berusaha pergi dan menjauh tetapi Lelaki Kecil terus mendekatinya.

Aku dapat melihat wajahnya..

Aku melihat wajahnya….. dan aku tidak akan pernah melupakan wajahnya.

Wajah kecil yang tidak tau harus berkata apa

Wajah kecil yang tidak tau harus bagaimana..

Wajah kecil yang menangis namun tidak mengeluarkan airmata.

Aku menahan lututku sekuat tenaga, aku menahan airmataku dengan segenap hati yang perih, entah bagaimana… tapi itu yang terasa..

Aku tidak bisa bergerak untuk sesaat.

Ibu yang Apik berusaha menjauhkan Lelaki Kecil dari hadapannya namun tidak pernah melepaskan tatapannya dari Lelaki Kecil. sambil tak hentinya mengatakan hal-hal yang menyakitkan bagi Lelaki Kecil, meskipun ketika ia memperkatakannya kadang suaranya terdengar parau.. sepertinya kata-kata itu menyakitkan juga buatnya.

“Kamu tidak dapat apa-apa, TAU!!!”

“Berdiri saja kamu disini sampai ada orang yang mau ambil kamu!”

Ibu yang Apik berbicara semakin keras

“Ini ya kamu pegang ini”

Sambil berusaha memasukkan dengan paksa benda yang kelihatan seperti kartu kecil ke salah satu kantong-kantong yang ada di celana Lelaki Kecil.

“Kamu pegang ini, kamu kasih sama orang yang temuin kamu, supaya mereka tau kamu dari mana”

Telah banyak orang yang menyaksikan kejadian itu. Selama Ibu yang Apik berbicara aku hanya mendengar suaranya, karena mata ku tidak dapat berpaling dari wajah Lelaki Kecil.

ia seperti tidak sanggup berbicara, ia mengusap matanya yang sedih namun tidak berair dengan sebelah tangan. Tangan lainnya menggenggam lengan Ibu yang Apik….

Wajah menangis itu memandang Ibu yang Apik seolah berkata aku harus berbuat apa,

tangannya yang menggenggam lengan Ibu yang Apik berkata jangan pergi.

..

Aku benar benar tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak tahan melihat wajah sedih itu dan aku tidak tahan mendengar kata kata menyakitkan dari hati yang sepertinya sedang berbeban berat.

Tapi aku tidak tau harus berbuat apa, apakah aku perlu berbuat sesuatu? Aku tidak tau apa persoalannya.. Pantas kah aku menegur orang tua?

Aku berjalan menjauh, namun enggan meninggalkan wajah sedih itu. Aku berbicara memohon kepada petugas keamanan yang telah berada ditempat itu sejak aku belum melihat kejadian tersebut agar paling tidak mencoba meredakan suasana, agar situasinya sedikit membaik pikir ku, karena tidak satu orang pun yang menyaksikan berbuat sesuatu, mungkin termasuk aku.

Namun bapak petugas itu hanya menunduk dan berpaling.

Situasi yang benar benar sulit.

aku kesal terhadap diriku sendiri yang tidak tau atau tidak mampu atau tidak berani berbuat sesuatu.

wajah Lelaki Kecil terus terbayang dibenakku, sampai akhirnya aku memutuskan untuk naik keatas, sambil berharap keadaan akan lebih baik, namun hati ku nggak tenang. Langkah ku berat, aku ingin kembali ke bawah dan berbuat sesuatu. Tapi berbuat apa?

……

Aku tak sanggup lagi menahan lutut dan airmata ku, aku masuk ke salah satu toilet, mengunci pintunya, terduduk dan menangis karena tidak sanggup lagi menahan perasaan ku.

Aku tidak tau apakah itu tangisan marah, atau perasaan bersalah, atau perasaan sedih yang mendalam… namun Bapa ku yang lemah lembut, Bapa ku yang sempurna memampukan ku untuk berdoa.

Aku berdoa kepada Tuhan ku yang penuh kasih setia, agar Ia menyentuh hati Ibu yang Apik, memadamkan kekecewaannya apapun itu, dan memeluk Lelaki Kecil.

Dan aku percaya Ia mendengar doa ku.

Setelah aku menenangkan diri, dan mencuci muka ku. Aku keluar dari toilet itu, mencoba melihat tempat kesedihan tadi.

Ibu yang Apik dan Lelaki Kecil, keduanya sudah tidak ada lagi di tempat itu.

Aku terus berharap keadaannya jadi lebih baik.

..

Aku berjalan lagi menuju tujuan ku yang seharusnya, tempat olahraga.

Sesampainya disana,

ternyata temanku belum juga datang. Aku memutuskan untuk berolahraga sendiri sambil menunggu temanku. Waktu terus berlalu, namun temanku tak kunjung datang. Aku tidak bisa menghubunginya karena telefon genggamku sudah ngga bisa menyala lagi.

Aku terus menunggu….

Aku duduk dengan bingung di depan loker, sampai tiba-tiba seorang petugas yang menjaga ruang ganti tersebut melihat ku

“Kok sedih banget, mba?” katanya

lalu aku menjelaskan bahwa aku sedang menunggu teman ku tapi ngga bisa menghubunginya karena telefon genggamku baterainya habis.

bermaksud meminta bantuan untuk menukarkan kartu di telefon genggamnya dengan kartu telefon ku, tetapi ia telah berbaik hati mempersilahkan aku memakai telefon genggamnya.

..

…. hari kamis itu benar benar menjadi hari kamis yang tidak biasa buat ku, Ibu yang Apik, Lelaki Kecil, dan Aisyah yang meminjamkan telefon genggamnya kepada ku…

Notes:

ada satu cara yang selalu membawa damai sejahtera saat kita tidak menemukan jalan keluar yaitu berdoa. Percayalah, DIA selalu ada untuk mu…


TAGS


-

Author

Search

Recent Post