Asa

8 Apr 2014

Sore itu aku duduk ditepi musim sambil berbincang dengan asa

Bertanya akankah Ia selalu ada diperjalanan menuju masa yang disana

Waktu itu aku buta sebelah mata

Ketika itu aku tuli sebelah telinga

Yang kanan atau yang kiri aku lupa

Adakah seorang yang tau pikiran yang terlupakan itu perginya kemana?

Aku selalu ingin tau apa yang akan aku temui pada masa yang disana

Anganku sering kali berakhir menjadi sebuah kekhawatiran belaka

Coba menerka tentang masa yang disana

Padahal aku buta sebelah mata

Tuli sebelah telinga

Merasa tau segala sesuatu, menimbang dengan ukuranku sendiri, dan kecewa

Lalu aku bertanya “Kenapa?”

Pemikiranku semuanya sia-sia

Jerih payahku hanya seperti menjaring angin saja

Aku lupa kalau aku buta sebelah mata

Tuli sebelah telinga

Pikiran dan mulutku terlalu banyak bicara

Sekali lagi aku lupa

Kalau sore itu aku sedang duduk dan berbincang dengan asa

Terlalu angkuh aku ternyata

Asa itu bukan untuk dipertanyakan, tapi untuk dipercaya

Seperti cahaya yang tidak pernah sirna

Kamu mungkin belum pernah melihatnya

Begitupun dengan mata dan telinga yang sempurna

Satu-satunya cara untuk menemukannya adalah dengan cara percaya

Karena adanya dimana-mana

Lebih dekat dari ‘didalam dada’

Diantara setiap detak jantungmu yang sebelum dan setelahnya

Disetiap tarikan nafas seperti arti namamu, dan dihembusan nafasmu, bahkan tidak ada celahnya

Mungkin lagi-lagi kamu lupa sore itu berbincang dengan siapa

Bertanya untuk masa yang disana, untuk apa?

Nantikan saja

Lihat sekarang kamu dimana

Kamu ada

Melangkahlah dengan makna karena kamu percaya

Kamu berharga

DIA ada

Menuntun dengan cahaya yang tidak pernah sirna

Hingga saatnya nanti kamu tiba pada masa yang disana

DIA setia.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post