Si Bingung

14 Aug 2014

Si Bingung telah ada di bagian lain dari Pulau Labirin, keluar dari jalan tanpa nama yang ada dibalik hutan tak berpenghuni. Bersama langkah dan tas tukang pos berisi penunjuk arah dan benda-benda penting miliknya, ia berjalan meninggalkan apa yang telah berlalu dibelakangnya, kini ia harus menyusuri Pantai Sepi yang panjang berpasir putih. Akhir dari Pantai Sepi itu adalah dermaga berkabut sendu yang berhadapan dengan lautan lepas. Jika kamu sungguh-sungguh melihat, bukan hanya dermaga dan lautan yang akan kamu temukan, tetapi harapan. Dermaga berkabut sendu itu adalah tempat orang-orang yang berhasil keluar dari Pulau Labirin dan Pantai Sepi menantikan kapal penyelamat.

Ia terus berjalan menyusuri Pantai Sepi yang panjang, mengikuti jejak langkah Si Pengembara yang sudah hampir mencapai dermaga. Ketika menyusuri Pantai Sepi yang panjang itu, Si Bingung dapat merasakan masih ada badai yang ingin membawanya mundur kebelakang dan kembali ke Pulau Labirin. Akan tetapi, jika Si Bingung meminta Si Pengembara untuk menunggu, Si Pengembara akan tertinggal kapal penyelamat yang singgahnya hanya sebentar saja. Ia tahu Si Pengembara telah lama merindukan lautan lepas, ia pun menyadari kalau badai yang mendekat khusus datang untuk Si Bingung, bukan untuk mereka berdua karena Si Pengembara telah terlebih dahulu menang menghadapi badainya.

Sebenarnya ada sesuatu yang begitu ingin Si Bingung berikan kepada Si Pengembara. Sesuatu yang belum pernah Si Bingung percayakan kepada siapapun, yaitu sebuah kalung toples berisi hatinya. Hati yang belum pernah ia ijinkan siapapun untuk benar-benar menyentuhnya, bahkan dirinya sendiri harus menyimpan hati itu dibalik kaca karena bentuknya yang tidak sempurna dan warnanya yang tak lagi merah merona. Banyak bekas luka terjatuh berkali-kali, warnanya keunguan karena lebam dan memar disana-sini.

Langit semakin gelap, awan hitam datang dengan muram diiringi suara guntur yang bergemuruh. Si Bingung mengabaikan semua pertanda itu, ia terus melangkah meski pengelihatannya semakin kabur akan pasir yang beterbangan karena angin besar. Samar-samar terlihat sosok Si Pengembara diujung Pantai Sepi, ia berbalik menuju Si Bingung. Si Pengembara begitu ingin mengajak Si Bingung berlayar bersama, ia memacu langkahnya sekuat tenaga mencoba menjemput Si Bingung, namun sudah terlalu jauh. Tangan mereka berusaha saling menggapai, namun semua usaha itu membuat mereka semakin jauh. Si Bingung melangkah dengan besar namun ombak yang begitu tinggi menghantam Pantai Sepi sehingga Si Bingung kehilangan pijakan. Dan tibalah badai yang begitu mengerikan, bersama pasukan hujan yang turun dengan begitu derasnya dari langit, diikuti angin yang semakin besar dan begitu ribut. Kilat menyambar dari angkasa ke segala penjuru pulau tanpa takut, membuat rasa takut yang ada didalam diri Si Bingung menjadi nyata, sehingga harapan diujung dermaga terasa semakin jauh dari genggaman. Tidak ada yang tahu berapa lama badai itu berkuasa atas Pulau Labirin, Pantai Sepi yang panjang, dan Si Bingung. Setelah itu segalanya diam dan begitu sunyinya hingga suara waktu dan denyut nadi pun terdengar.

Angin sepoi-sepoi berhembus, meniup luka-luka yang masih terbuka diseluruh tubuh Si Bingung yang kini tergeletak lemas ditepi Pantai Sepi. Perlahan ia membuka matanya yang sedikit kehilangan cahaya. Si Bingung masih membiarkan tubuhnya terbaring sambil menatap buih yang menjauh dan mendekat, di belakang buih, ada lautan yang rasa airnya sama dengan air matanya. Si Bingung merasakan air laut membasuh lembut wajah dan tubuhnya. Lalu dengan kekuatan yang belum pulih, ia mencoba berdiri.

Si Bingung melayangkan pandangannya mencari yang hilang dan yang tersisa. Tas tukang pos milik Si Bingung yang berisi kompas penunjuk arah, peta harta karun, buku catatan berisi tempat-tempat yang ingin ia datangi, semua berserakan. Si Bingung yang masih sedikit pusing mengambil tas tukang pos miliknya lalu memasukkan kembali benda-benda yang tersisa. Pikiran dan ingatannya masih berputar-putar mencoba mengerti bagaimana segalanya berakhir seperti ini. Tanpa ia sadari ada pelangi yang membingkai diatas langit Si Bingung. Sekarang jarak Si Bingung dengan dermaga sudah begitu dekat, tetapi ia merasa perjalanannya sia-sia. Ia merasa sendirian.

Dengan semua yang tersisa ia kembali berjalan ke dermaga, seketika matanya tertuju pada batu karang dengan pecahan kaca disekitarnya, ia berjalan menghampiri batu karang tersebut, menemukan yang hampir ia lupakan. Hati ungu yang sudah tidak lagi berada didalam toples kaca.

Si Bingung duduk di ujung dermaga berkabut sendu, tangan kirinya menggenggam hati ungu. Tangan kanannya terkulai dengan lemas. Nostalgia datang bagaikan gerimis kecil, menemani Si Bingung yang duduk menatap jauh entah kemana, seakan masih ada Si Pengembara diujung tatapannya. Si Bingung berteriak sekuat tenaga agar kapal penyelamat yang membawa Si Pengembara itu kembali, namun kapal itu telah menghilang dari penglihatan. Kini yang terlihat hanya garis lautan yang memanjang tak berbatas. Si Bingung ingin Si Pengembara tahu betapa berartinya setiap langkah yang pernah mereka jalani bersama bagi Si Bingung. Si Bingung ingin pergi berlayar mencari harta harun, mendatangi tempat-tempat yang ada dibuku catatannya bersama Si Pengembara. Dan Si Bingung ingin memberikan hati ungu yang sekarang ia genggam ditangan kirinya kepada Si Pengembara.

Ia berhasil keluar dari Pulau Labirin, telah ia susuri Pantai Sepi yang begitu panjang, dan telah ia lalui badai mengerikan yang datang khusus untuk menjumpainya. Ia merasa begitu yakin akan setiap langkah yang ia ambil untuk menggenggam harapan di ujung dermaga. Namun kini, semuanya bagaikan usaha menjaring angin. Tak ada lagi tempat yang dapat ia tuju, tidak tahu lagi apa yang ingin ia gapai, semua terasa begitu jauh, dan ia merasa begitu sendirian. Hanya ada dirinya dan hati ungu digenggamannya.

Si Bingung menengadahkan kepalanya ke langit, matanya membelalak karena begitu terkejut dengan apa yang ia lihat dilangit atas kepalanya. Sebuah pelangi yang membingkai janji akan kedamaian. Pelangi janji yang dahulu pernah ditunjukkan oleh Sang Kasih yang membawa Si Bingung keluar dari lembah kekelaman. Si Bingung memejamkan matanya, air mata kembali membasahi pipinya. Terlalu bodoh selama ini ia berjalan dalam labirin pikirannya sendiri, terlalu angkuh ia andalkan kekuatannya sendiri dalam melangkah menuju tempat yang ia inginkan, kurang sungguh-sungguh ia dalam mengucapkan kata percaya sehingga dirinya diliputi kekhawatiran yang sia-sia dan dihampiri badai keraguan, terlalu dalam ia sembunyikan hatinya yang terluka dan kecewa dimasa lalu. Salah arah ia ketika berusaha menggapai harapan, padahal Sang Kasih yang memberikan pengharapan selalu ada bersamanya, tidak pernah jauh darinya, selalu merindukan Si Bingung memanggil nama-Nya. Sia-sialah jerih payah Si Bingung padahal yang perlu ia lakukan hanyalah meminta, maka Sang Kasih akan memberikan apa yang ia butuhkan, bahkan jauh lebih baik dari apa yang ia harapkan. Sang Kasih yang selama ini tidak pernah sekalipun jauh dari Si Bingung, Sang Kasih yang memberikan kekuatan pada setiap langkah Si Bingung, Sang Kasih yang tidak pernah melupakan janji-Nya kepada Si Bingung. Satu-satunya yang setia selalu.

Si Bingung menggengam hati ungu dikedua telapak tangannya, menyematkan jari jemari, ia menutup matanya. Membawa dirinya masuk kedalam renungan, berdoa, dan memanggil dengan penuh kerinduan pada satu nama, Sang Kasih yang setia dan penuh belas kasihan.

Angin bertiup dengan lembut mengibaskan rambut Si Bingung yang terurai. Si Bingung mengucapkan syukur disetiap nafas yang ia hembuskan, sambil menyaksikan kejadian yang begitu menakjubkan yang ditujukan khusus untuknya. Yaitu matahari yang sebentar lagi tenggelam digaris lautan yang begitu tenang, memancarkan sinar jingga keemasan di air dan angkasa. Langit biru malam yang berjalan perlahan diikuti bulan dan bintang, terlukiskan dengan nyata waktu sesaat bulan dan bintang berada dilangit yang sama. Warna ungu yang begitu indah, mewarnai pergantian langit. Tidak ada kata atau barisan puisi yang sanggup menggambarkan betapa agung segala perbuatan, karya, dan rancangan Sang Kasih. Sang Kasih yang sempurna, menjadikan langit dan bumi, sanggup menenangkan badai, setia, penuh kelembutan, sanggup memulihkan setiap luka. Pengharapan akan Sang Kasih tidak akan mengecewakan. Karena-Nya masa depan sungguh ada.

Tak banyak yang Si Bingung punya. Hanya hati ungunya yang jauh dari sempurna. Namun hati ungu itulah yang selama ini Sang Kasih inginkan dari Si Bingung. Hati yang telah lama Ia nantikan untuk dipulikan, dibaharui, diberikan kedamaian dan harapan baru, dikasihi, dan disempurnakan. Si Bingung menyerahkan sepenuhnya hati ungu itu kepada Sang Kasih. Ia mau. Ia percaya, Kasih-Nya cukup.

Monita Tahalea


TAGS


-

Author

Search

Recent Post